Hasrat Rohani (Renungan #3-2016)

Pasca operasi pengangkatan miom Sylvia, kami menempati kamar perawatan bersama dengan tiga ibu yang baru saja melahirkan. Sepanjang hari dan malam, bayi dari ibu yang berada di depan kami menangis hampir tiap 1-2 jam, hal ini disebabkan karena ASI ibunya yang tidak lancar. Hal itu berlanjut hingga saat tidur malam, semua pasien dan keluarga dalam kamar itu terbangun setiap kali bayi malang ini menangis dengan keras. Bahkan dalam satu waktu, keempat bayi menangis dalam waktu yang bersamaan. Sungguh pengalaman yang seru bagi kami berdua di tengah kesakitan Sylvia. Pada malam kedua, giliran dua bayi kembar dari ibu di samping kiri kami yang menangis. Jika bayi satunya terbangun minta ASI, yang satunya pun terbangun dan ikut menangis minta ASI. Sepertinya ada kontak batin antara bayi kembar ini. Sang ibu sampai kewalahan, karena yang satu belum selesai, yang satu sudah minta jatah. Mereka begitu memiliki hasrat yang dalam terhadap ASInya.

Sylvia Pasca Operasi

Berikut ini rekaaman suara salah satu bayi yang menangis yang sempat saya rekam (klik tanda play untuk mendengar):

 

Malam berikutnya saya terbangun paling sedikit dua kali  untuk ‘menikmati’ tangisan bayi yang lapar dan haus, sembari Tuhan mengingatkan ayat berikut ini dan pengertian rohani dalam hati.

Kebenaran kekal: “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan” (1Pet. 2:2).

Air susu yang murni dan yang rohani adalah firman Allah yang hidup dan kekal (1:23). Jika hasrat kita terhadap firman Allah berkurang atau bahkan nihil atau malah ada penolakan, maka kita patut bertanya, apakah penyebabnya? Barangkali masih ada cara hidup lama yang kita pelihara (1:14,18-19); atau ada masalah dalam hubungan dengan sesama (1:22); atau ada hal-hal negatif dalam diri yang mencemari hidup kerohanian kita (2:1). Hal-hal itu janganlah kita biarkan, karena dapat menggerogoti kerohanian kita dan membuat kita kehilangan minat terhadap firman Allah. Akibatnya kita menjauh dan tersesat dari Gembala kita (2:25).

Mari kita terbuka akan pekerjaan Roh Kudus yang menguduskan kita lewat firman kebenaran agar kita kembali kepada hasrat akan air susu yang murni dan rohani yang mana kita bertumbuh serta beroleh keselamatan (2:2). Itulah tanda kehidupan orang percaya yang sehat, selalu rindu membaca, mendengar, merenungkan dan melakukan firman Allah.

Orang percaya seharusnya selalu memiliki hasrat rohani akan firman Allah sama seperti bayi yang selalu ingin akan air susu ibunya.

Doa:
Ya Bapa, bebaskan aku dari hal-hal negatif dalam diriku, agar hasrat akan air susu yang murni dan rohani, yaitu firman-Mu, selalu ada dan makin dalam.

Silahkan share,  tidak perlu ijin.

 

Semmy

Servant of my Lord, Jesus Christ, the Mesiah.

Komentar: