Penipu Gagal

Rabu malam, sekitar pukul 18.00 saya menerima telepon di nomor kartu AS saya. Nomor ini memang saya buka untuk umum agar dapat dikontak oleh setiap orang yang berkepentingan khususnya untuk pelayanan pribadi dan doa.

Berikut isi percakapannya saya (Me) dan penelepon (Liar/pembohong):

Liar: Ahh…uuuhh….ahhh….uhh…(seperti suara orang yang sedang kesakitan).

Me: Halo…siapa ini? Halo…halo….(suara di seberang tidak menjawab, tetapi tetap mengaduh kesakitan selama beberapa detik, tiba-tiba ada suara laki-laki menyapa saya)

Liar: Halo…saya bicara dengan bapak siapa? (Saya heran juga, kok tiba-tiba tanya nama saya, tanpa memperkenalkan dirinya terlebih dahulu)

Me: Nama saya xxx (saya juga tidak mau ikut-ikutan berbohong, jadi saya mengungkapkan nama asli saya, tetapi yang versi sulit). Ini dari siapa?

Liar: Kami dari kepolisian Pak. Apakah Bapak punya saudara laki-laki? (Saya bertambah curiga, ini pasti mau menjebak saya, namun saya tetap menjawab dengan jujur)

Me: Ya, saya punya saudara laki-laki, kenapa Pak?

Liar: Siapa namanya ya pak?

Me: Namanya Y (saya sebutkan nama tengah dari saudara laki-laki saya dan memang namanya dari bahasa Inggris)

Liar: Maaf pak, kurang jelas, siapa namanya? (Saya sebutkan lagi dengan nada cepat nama tengah adik saya). Baik Pak, namanya ‘Wiranto’ ya (karena dia tidak bisa menangkap nama tengah adik saya dengan jelas, dia pun menerkanya menjadi ‘Wiranto’)

Me: Ada apa Pak?

Liar: Apa pekerjaan adik Bapak? (Saya sambil berpikir, bagaimana untuk membuat orang ini jera)

Me: Pendeta Pak

Liar: (Ia terdiam sejenak…) Ooh, jadi adik bapak pendeta ya? (Suaranya makin ragu,). Lalu posisi adik Bapak di mana? (Ini pertanyaan yang saya tunggu…)

Me: Di Australia pak (Saya penasaran dengar apa jawabannya…)

Liar: Jadi kami baru menangkap wiranto dan ia kedapatan membawa narkoba (Meski ragu, orang ini berusaha untuk maju terus. Karena tidak mungkin ia sedang berada di Australia dan menangkap adik saya, apalagi nomor yang digunakan untuk telepon juga nomor AS).

Me: Oh, begitu. Jadi adik saya baru Bapak tangkap.

Liar: Benar Pak, lalu apakah adiknya mau diproses Pak? Mau di bawa kemana adiknya?(Saya yakin dia mengharapkan saya menjawab ‘jangan diproses’ dan ia ingin meminta uang agar adik saya tidak diproses, saya pun menjawab dengan mantap).

Me: Kalau begitu diproses saja langsung Pak!

Liar: Mau kami bawa kemana Pak?

Me: Langsung saja ke Mahkamah Konstitusi Pak!

Liar: Ke mana Pak? (Dengan nada bingung…)

Me: Ke Mahkaman Konstitusi Pak (Saya kebetulan baru nonton sidang pilpres di MK, padahal orang ketangkap narkoba tentu tidak dibawa ke MK he…he…biar jera)

Liar: Baik Pak, terima kasih (telepon pun ditutup)

Mari kita lebih berhati-hati dalam menghadapi orang-orang penipu seperti ini.

Semmy

Servant of my Lord, Jesus Christ, the Mesiah.

2 Comments:

  1. kasus narkoba ke mahkamah konstitusi ha ha ha

Komentar: