Percaya akan Tuntunan TUHAN [Renungan #8-2017]

Menyeberang jalan di Indonesia harus selalu extra hati-hati,  apalagi jika kita menuntun orang-orang yang kita sayangi. Di lingkaran terdekat tempat tinggal saya, istriku Sylvia dan mami Susana, adalah dua wanita yang sering saya tuntun jika menyeberang jalan. Setelah berulang kali membawa mereka menyeberang jalan, saya menyadari bahwa percaya kepada saya sebagai penuntun adalah penting dalam proses menyeberang jalan.

Percaya

Mami Susana dan Sylvia

Setelah sekian kali saya membawa istri atau mami saya untuk menyeberang, saya mulai mengenali perilaku menyeberang mereka sebagai wanita. Di satu sisi mereka selalu mau untuk dilindungi, sehingga saya selalu berusaha memegang tangan mereka dan menuntun untuk menyeberang, tetapi di sisi lain ada hal yang kelihatannya sepele namun dapat membahayakan. Berulang kali mama atau istri saya ragu-ragu untuk menyeberang karena mereka ingin melihat mobil yang melaju mendekati kami. Bagi saya jarak kendaraan masih cukup jauh dari tempat kami menyeberang, atau jika kendaraan tidak terlalu cepat, saya berani untuk memberi kode tangan agar kendaraan berhenti (terutama jika kami menyeberang di zebra cross). Tetapi karena keraguan dan ketidakpercayaan mami atau istriku, mereka malah menarik tangan saya untuk batal menyeberang, justru ketika saya mulai menarik tangan mereka untuk mulai menyeberang. Saling tarik menarik atau menahan dari sisi mereka bukanlah sesuatu yang ‘fun’, tetapi justru dapat berbahaya.

Menyadari hal di atas, suatu kali sebelum saya membawa mami atau istri untuk menyeberang, saya berkata:”Mami/istriku, tidak usah ikut-ikutan melihat kendaraan yang akan datang. Mami percaya saja sama saya, saya akan memutuskan dengan tepat, apakah harus menyeberang sekarang atau masih harus menunggu. Jalan dengan mengikuti tuntunan tangan saya, saya akan antar mami sampai di seberang jalan dengan selamat!”. Ketika mereka menurut nasihat saya, semua proses menyeberang jalan menjadi aman dan selamat, tidak ada lagi tarik-menarik atau menahan yang dapat membahayakan saya maupun mereka.

Dalam Mzm. 73, Asaf mengalami situasi yang sulit, ia mengalami kesulitan dalam hidupnya berkenaan dengan orang fasik (Mzm. 73:2-10), mengapa orang fasik kelihatannya seperti selalu mujur, sedangkan Asaf yang berusaha hidup bersih dan tulus justru malah mengalami kesulitan dan puncaknya ketika orang fasik mencemooh Allah (ay. 11). Asaf mengeluh karena merasa apa yang ia lakukan benar (mempertahankan hati yang bersih) kelihatannya tidak berguna/sia-sia, malah terkena tulah dan hukum (ay. 13-14). Tetapi ketika ia masuk ke dalam tempat kudus Allah dan barulah ia melihat kenyataan yang terjadi berupa kebinasaan orang fasik. Dalam kesakitan yang ia alami (ay. 21-22), ia menyatakan pengakuannya dan kepasrahan kepada Tuhan:

Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. (ay. 23-24)

Jika kita mengalami situasi yang sulit, seperti jalan buntu, mungkin kita perlu merenung sejenak, apakah kita benar-benar memberikan diri kita untuk pasrah kepada TUHAN? Seharusnya bukan kita yang mengatur TUHAN, bukan cara pikir dan cara pandang kita yang akan membawa kita selamat melalui semua pergumulan hidup, tetapi biarlah TUHANlah yang mengatur langkah hidup kita. Ketika Asaf masuk dalam tempat kudus TUHAN, barulah ia menyadari apa yang terjadi dengan orang fasik (ay. 16-17). Tempat kudus TUHAN merupakan tempat di mana mata kita akan terbuka akan cara pandang dan cara pikir TUHAN terhadap suatu masalah (dalam konteks ini orang fasik).

Seperti saya selalu mau menuntun mama atau istri saya,  demikian juga Tuhan mau menuntun kehidupan kita. Mama atau istriku harus mengikuti tuntunanku, agar selamat tiba di seberang jalan. Kita pun demikian, kita harus ikut perintah-Nya dengan mendengarkan nasihat-Nya, sehingga kita akan dituntun-Nya sampai ke dalam kelepasan, pemulihan dan kemuliaan.

Maka percaya akan tuntunan TUHAN berarti:

  1. Tidak berjalan menurut kehendak manusiawi kita, tetapi menurut kehendak TUHAN.
  2. Tetap hidup tulus dan bersih meskipun sekeliling kita berlaku fasik. Tidak mengikuti cara hidup yang fasik meskipun kelihatannya mereka berhasil.
  3. Percaya bahwa TUHAN tidak pernah salah atau gagal atau ingin mencelakakan kita, karena Ia sempurna dalam jalan-Nya dan Ia dapat diandalkan.
  4. Jikalau ada orang yang menolong kita dalam kesusahan, maka kita melihat dengan iman bahwa TUHANlah yang menggerakan orang tersebut untuk menolong kita.
  5. Ada hal yang di luar akal atau logika yang dapat TUHAN perbuat di masa-masa yang sulit.

Pada akhirnya kita dapat berkata seperti Asaf:

Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindungaku pada Tuhan Allah, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya. (ay. 28)

Kesaksian kita bukanlah berdasar apa kehebatan kita, tetapi bagaimana kita dituntun TUHAN sehingga dapat melewati kesulitan dan pergumulan hidup. Sehingga hanya TUHANlah yang dimuliakan, bukanlah diri kita.

Terpujilah Allah Bapa dan Kristus Yesus, Penuntun hidup kita sampai ke Sorga kelak, maranatha!

Doa: Bapa, ampuni aku jika terkadang aku tidak mempercayakan diriku sepenuhnya kepada tuntunan-Mu. Ajar anak-Mu untuk berserah penuh kepada-Mu. Karena hanya dalam tuntunan-Mu aku selamat. Di dalam nama Yesus, Gembalaku, aku berdoa, amin!

Semmy

Servant of my Lord, Jesus Christ, the Mesiah.

Komentar: