Warga Kerajaan Sorga (Renungan #4-2016)

Dalam perayaan kemerdekaan bulan Agustus 2016 lalu, saya memutuskan untuk mengikuti upacara bendera di tempat kami. Ketika upacara berlangsung, rasanya terharu mendengarkan lagi pembacaan Pancasila, UUD, naskah proklamasi. Diperkuat dengan lagu-lagu yang menggugah semangat nasionalisme, khususnya saat pengibaran bendera merah putih, kebanggaan kita bersama.

Upacara Bendera

Upacara Bendera 17 Agustus 2016

Berkilas balik akan masa SD-SMA saya, salah satu kegiatan rutin tiap Senin ialah upacara bendera. Sejujurnya upacara bendera merupakan aktivitas yang terasa sangat membosankan. Jika ditanya, apakah pernah merasa terharu atas perjuangan kemerdekaan, khususnya saat upacara bendera? Jawaban saya: ‘tidak pernah’. Apakah ada perasaan bangga sebagai warga negara Indonesia? Jawaban saya: ‘biasa saja’.

Tetapi hal ini berubah ketika pada akhir bulan Agustus tahun 1997 saya mendapat kesempatan untuk pergi ke luar negeri bersama orang tua saya. Di salah satu kota yang kami kunjungi, kami berjalan-jalan di downtownnya  ketika ada waktu senggang. Di taman kota itu ada stand yang didirikan oleh anggota gereja yang kami layani, tujuannya memperkenalkan Indonesia dalam rangka merayakan kemerdekaan Indonesia. Mereka memutar lagu-lagu perjuangan sembari berjualan makanan khas Indonesia. Sewaktu mendengar lagu-lagu kemerdekaan diputar, saya merasa ada getaran dalam hati saya. Lalu rasa bangga terhadap  ke-Indonesiaan saya muncul dan diikuti ingatan tentang negeriku memenuhi pikiran saya. Saya seperti disadarkan ternyata I do love my country and I am proud to be Indonesian! Hal yang sama sekali tidak pernah muncul selama saya mengikuti kegiatan perayaan kemerdekaan RI selama masa anak-anak.

Kisah di atas mengingatkan saya akan kebenaran kekal berikut ini:

Kebenaran kekal: Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya. (Filipi 3:20-21)

Apakah kita pernah menyadari bahwa  kewargaan kita di dunia sifatnya hanya sementara saja. Sesungguhnya kewargaan kita adalah di dalam sorga, Tuhan Yesus menyebutnya dengan ‘Kerajaan Sorga’.

Sebagaimana orang Indonesia memiliki karakteristik keIndonesiaannya, dalam bagian ini Paulus menguraikan karakteristik warga sorga:

  1. Tidak menaruh percaya kepada hal-hal lahiriah (ay. 3)
  2. Yang paling mulia adalah pengenalan akan Kristus Yesus dan kuasa kebangkitan-Nya (ay. 8,10)
  3. Mau menjadi serupa dengan Kristus (ay. 10)
  4. Tujuan hidupnya adalah memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi (ay. 14)
  5. Tekun menantikan Tuhan Yesus sebagai Juruselamat (ay. 20-21).

Banyak orang yang mengaku sebagai ‘warga Kerajaan Sorga’, tetapi tidak peduli akan pentingnya hal-hal di atas. Yang lebih menyedihkan, pikirannya lebih fokus kepada hal-hal lahiriah (ay. 4-6), tuhannya ialah perutnya, aib adalah kemuliaannya dan perkara-perkara duniawi menjadi fokusnya  (ay. 18-19). Hal itu adalah karakteristik duniawi.

Dua pertanyaan berikut perlu kita jawab dari dalam hati terdalam:

  1. Bagaimana perasaan dan pikiran kita setelah menjadi warga Kerajaan Sorga? Istimewa, bersukacita, atau biasa saja?
  2. Apa fokus hidup kita selama di dunia ini, apa yang kita kejar sekarang? Lebih fokus ke hal lahiriah atau hal sorgawi?

Bagi Rasul Paulus, menjadi warga sorga adalah jati dirinya;  mengenal Pemilik sorga, Yesus Kristus, merupakan hasrat utamanya; menantikan Tuhan Yesus datang sebagai Juruselamat adalah sukacita dan pengharapannya.

Saudaraku, hidup di dunia hanyalah sementara. Karena kita adalah warga Kerajaan Sorga, maka fokus kita seharusnya lebih besar mengarah ke sorga, kepada hal-hal kekal. Tentu kita juga tetap mengerjakan hal-hal kesementaraan selama menumpang di dunia ini. Entah Tuhan akan memanggil kita pulang (lewat kematian) atau bisa jadi Tuhan Yesus datang kembali ketika kita masih hidup, namun kepastian dan kesukaan kita sebagai warga Sorga harus nyata dalam hidup kita sekarang. Meninggal dunia merupakan kesedihan dan akhir segalanya bagi orang dunia, tetapi bagi warga Kerajaan Sorga, itulah ucapan syukur terdalam. Karena seorang warga sorga sudah kembali pulang ke rumahnya yang kekal, sorga mulia!

Aku memang bangga menjadi warga negara Indonesia, tetapi jauh lebih bangga dan bersyukur bahwa aku  adalah warga Kerajaan Sorga!

Doa: Bapa, aku bersyukur bahwa kewargaanku adalah di dalam Sorga. Biarlah hidupku terfokus kepada Engkau, mau mengenal Anak-Mu Yesus lebih lagi dan tekun berlari-lari kepada panggilan sorgawi, karena sorga adalah tempat dan rumahku yang sesungguhnya. 

Semmy

Servant of my Lord, Jesus Christ, the Mesiah.

Komentar: